About me

CIRCLE OF MY LIFE

Way of Life

FRIEND AND COMPATRIOTS

Past life

WHEN I USED TO BE

Project

MY LAST PROJECT, INDOFERO - INDOCOKE, CIWANDAN, CILEGON

Project

NEW PROJECT II / MENTENG RESIDANCE, JAKARTA

Sabtu, 22 Januari 2011

Teknis Tiang Bor ( Bored Pile )

Persiapan Lapangan
Dalam persiapan lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Harus tersedia jalan kerja yang memadai
- drainase harus dibuat dan dipelihara selama proses pekerjaan.
- Dapat diperlukan blok beton atau plat baja sebagai bantalan untuk menahan crane dan beton mixer agar dapat mencapai titik pile.
- dipersiapkan penerangan yang cukup dilokasi-lokasi penting dalam proyek.

Metode Pengeboran
metode pengeboran harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadi ketidak lurusan lubang bor secara vertikal. sebelum menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah auger sedangkan bila sudah menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah bucket.

Slurry
Slurry digunakan untuk berbagai kepentingan dalam metode bored pile, biasanya untuk mencegah kelongsoran. Slurry yang digunakan pada metode bored pile adalah air, polimer, dan bentonite. Polimer berfungsi untuk mempercepat terjadinya pengendapan sedangkan bentonite berfungsi untuk mencegah kelongsoran. penggunaan slurry disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. berikut ini merupakan bentonite properties yang perlu dicapai saat pelaksanaannya:
- pH appatus : 7.5-11
- viscosity : 32-45 s
- density : 1.02-1.2
- sand content : <3% vol
- fluid loss : 20-40ml
- cake : <1-3mm
semuanya itu harus dilakukan percobaan saat pembuatan bentonite sesuai kebutuhan. namun biasanya yang dilakukan hanyalah pH appatus, viscosity, dan density. padahal fluid loss dan cake penting juga untuk dilakukan. namun batasan waktu dan biaya menyebabkan fluid loss and cake tidak dilakukan. Lalu dalam pelaksanaan pembuatan bentonite juga perlu diperhatikan, baik dalam pembuatan maupun pembuangannya. jangan sampai dibuang sembarangan karena akan menyebabkan masalah lingkungan.

Pembuangan Tanah
Pembuangan tanah pada metode bored pile perlu diperhatikan karena bila tidak dapat menimbulkan permasalahan di lapangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam metode bored pile adalah:
- Tanah hasil pengeboran di kumpulkan disamping crane bor.
- Tanah tersebut harus segera dikeluarkan agar tidak mengganggu proses pengeboran.
- Umumnya disiapkan suatu lokasi dalam proyek untuk penampungan sementara tanah galian untuk kemudian dikeluarkan dari lokasi proyek pada malam hari

Desanding / Recycling
proses reclying ini perlu dilakukan untuk memisahkan tanah dan bentonite, dan excavation soil.

Pemasangan Pembesian
Dalam pemasangan pembesian, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Pembesian ini perlu dipasang spacer beton
digantung ke casing dengan menggunakan batang besi.
- Penurunan besi kedalam lubang dimana dasar galian cukup bersih.
- Bagian bawah pembesian dimasukan terlebih dahulu kedalam lubang dan digantung di dinding casing.
- Besi berikutnya dimasukan menyusul diatas besi pertama serta dilakukan penyambungan.
- Penyambungan umumnya menggunakan sistem pengelasan pada sejumlah overlap besi utama.
- Setelah pembesian terpasang dimana kedalaman galian diukur ulang untuk memeriksa adanya pengendapan atau kelongsoran selama pemasangan besi.
- sedimentasi: proses pembersihan dasar galian dapat dilakukan dengan menurunkan pompa submersible untuk menyedot kotoran.
- Kelongsoran terjadi maka pembesian harus diangkat ulang

Pemasangan Tremie Pipe
Tremie pipe merupakan pipa yang digunakan untuk memasukan beton ke dalam lubang bor agar beton tidak rusak akibat bercampur dengan cairan pengisi lubang

Pengecoran
Dalam proses pengecoran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Slump beton: 175mm sampai 225mm.
- Pipa tremie: diameter dalam 220mm dengan panjang yang variatif, 0.5m, 1m, 2m, dan 4m.
- Jika diperhitungkan waktu pengecoran yang lama diperlukan retarder untuk menjaga agar beton masih belum set selama proses pengecoran
- Selama proses pengecoran, perlu dilakukan pencatatan serta pembuatan grafik ketinggian muka beton VS volume beton serta dibanding dengan perhitungan teoritis.
- Pembuatan sampel beton
- Jika batas atas pengecoran berada dibawah level permukaan proyek maka diperlukan penimbunan dengan material yang cukup stabil setelah beton set.
- Jika galian mengalami kelongsoran total, maka lubang harus di tutup dengan dengan menggunakan lean concrete

Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan:
Manajemen lapangan
- Proses penggalian yang menggunakan air atau slurry dapat berpeluang merusak ke bersihan serta kestabilan permukaan lapangan.
- Perlu sistem drainase lapangan yang baik + perawatan sistem tersebut
- Lapangan yang rusak akibat permukaan yang terendam air akan menyebabkan resiko crane yang tidak stabil serta mixer beton yang sulit mencapai lokasi
Posisi Pembesian
- Dengan adanya aliran beton disaat pengecoran dapat mengangkat pembesian sehingga tidak berada di level yang diinginkan.
- Posisi pembesian ini perlu diperhatikan selama pengecoran agar besi tidak naik.
- Biaya perbaikan posisi besi ini biasanya melibatkan angka yang sangat besar

Persyaratan Dasar Tangga Bangunan Berhubungan dengan Kebakaran

Tangga adalah suatu tempat untuk menghubungkan ruangan bawah dengan ruangan di atasnya. Selain untuk menghubungkan ruangan-ruangan tersebut, tangga berfungsi juga sebagai tempat untuk melarikan diri dari gangguan kebakaran.


Tangga kebakaran mempunyai beberapa persyaratan, yaitu :
a. tangga terbuat dari konstruksi beton atau baja yang mempunyai ketahanan kebakaran selama 2 jam.
b. tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton yang tebalnya minimum 15 cm atau tebal tembok 30 cm yang mempunyai ketahanan kebakaran selama 2 jam.
c. bahan-bahan finishing, seperti lantai dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak licin.
d. pintu tangga terbuat dari bahan yang tahan kebakar (pintu tahan api)
e. pintu paling atas membuka ke arah luar (atap bangunan) dan semua pintu lainnya membuka ke arah ruangan tangga, kecuali pintu paling bawah membuka ke luar dan langsung berhubungan dengan ruangan luar.
f. supaya asap kebakaran tidak masuk ke dalam ruangan tangga, maka di depan tangga dipasang exhaust fan, sedangkan pada ruangan tangga dipasang pressure fan yang berfungsi menekan atau memberi tekanan di dalam ruangan tangga yang lebih besar daripada tekanan pada ruangan luar. Pada gedung yang menjadi objek pengamatan kami exhaust fan dan pressure fan dapat kita lihat pada gambar potongan gedung.
g. di dalam dan di depan tangga diberi alat penerangan sebagai petunjuk arah ke tangga dengan daya otomatis/emergency.


LEBAR TANGGA

Lebar tangga yang disyaratkan harus:
a. bebas halangan, seperti pegangan rambat (handrail), bagian dari pagar
tangga (balustrade), dan sejenisnya; dan
b. lebar bebas halangan, kecuali untuk list langit-langit, sampai ketinggian
tidak kurang dari 2 m, vertikal di atas garis sepanjang bagian yang menonjol dari injakan tangga atau lantai bordes.
2. Tangga yang lebarnya melebihi 2 m dianggap mempunyai lebar hanya 2 m, kecuali bila tangga tersebut terbagi oleh pagar tangga atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m.

Perencanaan Bangunan Tahan Gempa

Dalam keadaan statis, sebuah bangunan hanya memikul beban gravitasi, yaitu berat sendirinya dan beban hidup (kalau ada). Namun pada saat dilanda gempa, bangunan akan mengalami getaran horizontal dan mengadakan gerakan dari posisi diam menuju arah yang berlawanan dengan arah gerakan tanah.

Pada lokasi bangunan, gempa akan menyebabkan tanah dibawah bangunan dan sekitarnya tergoncang dan bergerak secara tidak beraturan, percepatan tanah terjadi dalam tiga dimensi membentuk kombinasi frekuensi getaran dari 0.5 Hz sampai 50 Hz. Getaran gempa ini akan menjadi gaya inersia yang bekerja pada tiap elemen bangunan dan mengakibatkan bangunan ber-respon (bangunan akan mengalami goyangan). Besarnya gaya inersia ini sangat tergantung dari berat massa dan kekakuan bangunan, makin berat dan kaku bangunan makin besar gaya inersia yang bekerja. Dalam pelayanan jasa konstruksi, seorang ahli bangunan dituntuk bertanggung jawab untuk merancang bangunan yang mampu menahan gaya-gaya inersia ini.

Macam-macam kerugian yang diakibatkan oleh gempa pada bangunan adalah:
1. pecahnya pondasi dan lantai bangunan yang mengakibatkan bangunan turun atau miring
2. dinding dan atau rangka pintu/jendela retak/pecah
3. rangka bangunan, plafon, atap mengalami deformasi atau pergeseran ke arah horizontal dan menjadi labil sehingga ikatan antara elemen struktur lepas
4. kemungkinan terjadi korsluiting listrik yang dapat menimbulkan kebakaran
5. kerugian yang paling total adalah robohnya bangunan tersebut

Mengingat bahwa indonesia merupakan negara yang termasuk jalur gempa berbahaya maka dalam desain dan analisis bangunan harus pula memperhatikan adanya pengaruh gempa ini.

Berikut ini ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi kerugian akibat gempa pada bangunan tidak bertingkat

1. denah yang sederhana dan simetris: untuk mengurangi momen puntir oleh gaya gempa
2. perencanaan ruang, penempatan dinding penyekat, lubang pintu/jendela, sebaiknya simetris terhadap sumbu bangunan
3. bahan bangunan dipilih yang ringan, terutama untuk yang dibagian atas/atap
4. dinding dari pasangan bata tanpa struktur beton bertulang, tidak boleh untuk dibuat bertingkat atau tinggi
5. sistem fondasi dan rangka bangunan harus diberi perkuatan: balok sloof, kolom praktis, dan balok atas, dari beton bertulang dengan jumlah tulangan minimal 4 d 10 mm
6. pada konstruksi fondasi dari pasangan batu kali, harus dibuat menerus dibawah seluruh pasangan bata dengan diberi sloof diatasnya, yang berfungsi untuk meratakan beban dari atas dan penahan gaya lateral oleh gempa

Material Perbaikan Beton

Dalam melakukan perbaikan pada beton yang rusak dan ingin diperbaiki, umumnya dilakukan dalam beberapa cara seperti di bawah ini:
1. Grouting
2. Epoxy
3. Bonding Agent
4. Repair
5. Shotcrete


Berikut ini merupakan penjelasan mengenai sifat-sifat, kegunaan, dan cara poembuatan dari material perbaikan beton yang umumnya dilakukan.

1. GROUTING


Sifat-sifat Grouting:
- Terdiri dari satu komponen
- Workability dan kekuatan tinggi
- Tahan beban impact dan beban bergerak
- Tidak terjadi penyusutan dan segregasi
- Ekonomis
Biasa digunakan di:
- Dudukan pondasi mesin
- Pengisian angkur
- Perbaikan beton pada bagian yang keropos
- Bearing pads
Cara pemakaian Grouting:
- Setiap 1 m3 memerlukan 2000 kg
- Bagian permukaan beton dibersihkan dari kotoran (debu, oli dsbnya)
- Campurkan bahan grout dan air dan diaduk
- Bagian yang akan digrouting dipersiapkan dengan bekisting yang baik
- Aplikasikan bahan grout dengan cara menuangkan pada bagian yang akan digrout
- Sealing bagian bekisting dari kemungkinan kebocoran

2. EPOXY


Sifat-sifat epoxy
- Terdiri dari 2 komponen: resin dan hardener
- Super low viscosity
- Dapat digunakan dalam keadaan kering dan lembab
- Memiliki adhesive dan mekanik yang tinggi
- Keras namun tidak getas
Kegunaan epoxy:
- Mengisi celah dan keretakan struktur beton, antara 0,2 mm dan 5 mm
Cara pemakaian Epoxy:
- 1 m3 memerlukan 1000 kg
- Campurkan kedua komponen (2:1)
- Cara gravitasi (dituangkan) untuk retakan horizontal
- Secara umum, cara injeksi dengan tekanan

3. BONDING AGENT


Sifat-sifat Bonding Agent:
- Ada beberapa jenis: syntetic resin dispersion, styrene butadiene rubber, polyvinyl acetate dan bahan epoxy
- Menambah daya rekatan pada sambungan beton lama dan baru
- Menambah elastisitas
- Mengurangi penyusutan (shrinkage)
- Ketahanan kimia dan abrasi yang meningkat
Kegunaan Bonding Agent:
- Penyambungan beton lama dan baru
- Plesteran dan acian
- Perekat untuk bahan patching dan repair mortar
Cara pemakaian Bonding Agent:
- 4-6 m2 memerlukan 1 kg bonding agent
- Dicat pada permukaan beton lama sebelum di cor
- Untuk pelesteran dan acian, bonding agent dicampurkan pada adukan tersebut

4. REPAIR


Sifat-sifat Repair:
- Umumnya terdiri dari 2 komponen (serbuk + cairan)
- Mengandung fiber polyamide agar bahan repair tidak mudah retak
- Kekuatan tinggi terutama lenturnya
- Kedap air
- Mudah pemasangannya
Kegunaan Repair:
- Perbaikan permukaan beton
- Perbaikan keretakan beton
- Pengisian keropos kecil pada beton
- Perbaikan leveling lantai
- Perekat pada pasangan keramik, beton ringan
Cara pemakaian Repair:
- 1 m2 dan ketebalan 1 mm memerlukan 2 kg

5. SHORTCRETE


Sifat-sifat Shortcrete:
- Terdiri dari bentuk serbuk dan cairan
- Ketebalan beton dapat diatur
- Ekonomis
- Pelapisan dengan cara menyemprotkan mortar atau beton dengan alat bertekanan
Kegunaan Shortcrete:
- Cocok untuk kontruksi beton
- Perkerasan dan stabilisasi slope
- Repair balok dan kolom

Tarik, Tekan, Lentur, Geser, Torsi & Tumpu Pada Struktur Teknik Sipil

Gaya eksternal yang bekerja pada struktur akan menyebabkan timbulnya gaya internal di dalam elemen-elemen struktur. Gaya internal di dalam elemen yang paling umum terjadi adalah berupa tarik, tekan, lentur, geser, torsi, dan tumpu (Gambar 9). Yang berkaitan dengan gaya-gaya internal adalah timbulnya tegangan dan regangan internal. Tegangan (stress) adalah ukuran intensitas gaya per satuan luas, dimana satuannya adalah lb/in² atau N/mm² (MPa), dan regangan (strain) adalah ukuran deformasi, dimana satuannya adalah in./in. atau mm/mm.

Gaya tarik (tension force) mempunyai kecenderungan untuk menarik elemen hingga putus. Kekuatan elemen tarik tergantung pada luas penampang elemen dan material yang digunakan. Elemen yang mengalami tarik dapat mempunyai kekuatan tinggi, misalnya pada kabel yang digunakan untuk struktur terbentang panjang. Kekuatan elemen tarik umumnya tergantung pada panjangnya. Tegangan tarik terdistribusi merata pada penampang elemen, besarnya tegangan tarik adalah gaya per satuan luas.


Gaya tekan (compression force) cenderung akan menyebabkan kehancuran atau tekuk pada elemen. Elemen yang pendek cenderung hancur, dan mempunyai kekuatan relatif setara dengan kekuatan elemen tersebut apabila mengalami tarik. Sebaliknya, kapasitas pikul beban elemen tekan semakin kecil untuk elemen yang semakin panjang. Elemen tekan panjang dapat menjadi tidak stabil, dan dapat secara tiba-tiba menekuk pada taraf beban kritis. Ketidakstabilan tiba-tiba yang menyebabkan elemen tidak dapat memikul beban tambahan sedikitpun, bisa terjadi tanpa terjadi kelebihan tegangan pada material. Fenomena ini disebut tekuk (buckling). Karena adanya fenomena tekuk ini, maka elemen tekan yang panjang tidak dapat memikul beban yang sangat besar.

Lentur (bending) adalah keadaan gaya kompleks yang berkaitan dengan melenturnya elemen. Biasanya lentur terjadi pada elemen balok sebagai akibat dari adanya beban transversal. Aksi lentur menyebabkan serat-serat pada satu muka elemen memanjang, mengalami tarik, dan serat pada muka lainnya mengalami tekan. Jadi, baik tarik maupun tekan terjadi pada satu penampang yang sama. Keadaan gaya yang kompleks ini tidak dapat hanya dinyatakan dengan tegangan yang besarnya sama dengan gaya dibagi luas penampang.

Tegangan tarik dan tegangan tekan ini bekerja dalam arah tegak lurus permukaan penampang. Kekuatan elemen yang mengalami lentur tergantung pada distribusi material pada penampang, juga jenis materialnya. Sebagai respon atas adanya lentur, penampang mempunyai bentuk-bentuk khusus, misalnya profil sayap lebar dari baja, atau penampang beton bertulang yang menggunakan tulangan baja sebagai pemikul tarik.

Geser (shear ) adalah keadaan gaya yang berkaitan dengan aksi gaya-gaya berlawanan arah, yang menyebabkan satu bagian struktur tergelincir terhadap bagian di dekatnya. Tegangan yang timbul disebut sebagai tegangan geser (shear stress), yang bekerja dalam arah tangensial permukaan gelincir. Tegangan geser umum terjadi pada balok. Torsi (torsion) adalah puntir. Baik tegangan tarik maupun tekan terjadi pada elemen yang mengalami torsi.

Tegangan tumpu (bearing stress) terjadi antara bidang muka dua elemen apabila gaya-gaya disalurkan dari satu elemen ke elemen lainnya. Sebagai contoh, tegangan tumpu pada ujung-ujung balok yang terletak di atas dinding atau kolom. Tegangan-tegangan yang terjadi mempunyai arah tegak lurus permukaan elemen. Defleksi (deflection) yang diakibatkan beban pada elemen harus dibatasi pada taraf yang diijinkan. Tegangan dan interaksi tegangan dapat saja terjadi pada elemen struktur.