About me

CIRCLE OF MY LIFE

Way of Life

FRIEND AND COMPATRIOTS

Past life

WHEN I USED TO BE

Project

MY LAST PROJECT, INDOFERO - INDOCOKE, CIWANDAN, CILEGON

Project

NEW PROJECT II / MENTENG RESIDANCE, JAKARTA

Selasa, 11 Januari 2011

Proses Standar Pembuatan Jalan Raya

Jalan Raya di indonesia pada umumnya menggunakan jalan asphalt, bagaimanakah cara membuat jalan asphalt?

berikut urutan kerja pembuatan jalan asphalt beserta alat-alat berat dan kegunaanya

Pembersihan dan Perataan lahan

Sebelum jalan raya dibangun, lahan dibersihkan dahulu dari sampah maupun pepohonan kemudian diratakan.

untuk membersihkan lahan dan menggali maupun mengurug tanah

excavator

excavator

setelah lahan dibersihkan kemudian dilakukan pekerjaan perataan tanah dengan menggunakan alat buldozer

buldozer

buldozer

untuk memindahkan tanah bekas galian maka digunakan dump truk

Penghamparan material pondasi bawah

penghamparan material pondasi bawah berupa batu kali menggunakan alat transportasi dump truk kemudian diratakan dan dipadatkan dengan menggunakan alat tandem roller

Tandem roller

Tandem roller

pekerjaan perataan dengan tandem roller di lakukan lagi pada saat penghamparan lapis pondasi atas, dan lapir permukaan.

pada saat penghamparan material pondasi dilakukan pekerjaan pengukuran elevasi urugan dengan alat teodolit dan perlengkapanya.

Penghamparan lapis asphalt

setelah lapisan pondasi bawah selesai dikerjakan, proses selanjutnya adalah penghamparan asphalt yang sebelumya sudah dipanaskan terlebih dahulu sehingga mencair.

untuk menghamparkan asphalt digunakan alat asphalt finisher

asphalt finisher

asphalt finisher

setelah asphalt berhasil dihamparkan dengan elevasi jalan raya yang sudah diukur menggunakan theodolit sesuai perencanaan pekerjaan selanjutnya adalah pemadatan dengan buldozer hingga memenuhi kepadatan dan elevasi yang direncanakan



pekerjaan selanjutnya adalah finishing pemadatan dan perataanjalan raya dengan alat peneumatic roller

peneumatic roller

peneumatic roller

Perbandingan Bahan & Tenaga Untuk Membuat Campuran Beton K

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 7,4 MPa (K 100), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,87

Bahan

  • Portland cement 247,000 kg
  • PB 869 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 999 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 9,8 MPa (K 125), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,78

Bahan

  • Portland Cement 276,000 kg
  • PB 828 kg
  • kerikil (maksimum 30 mm) kg 1012 KR
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 12,2 MPa (K 150), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,72

Bahan

  • Portland cement 299,000 kg
  • PB 799 kg
  • Kerikil (maksimum 30 mm) 1017 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 lantai kerja beton mutu f’c = 7,4 MPa (K 100), slump (3-6) cm, w/c

= 0,87

Bahan

  • Portlland cement 230,000 kg
  • PB 893 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1027 kg
  • Air 200 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,200 OH
  • Tukang batu OH 0,200 OH
  • Kepala tukang 0,020 OH
  • Mandor 0,060 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 14,5 MPa (K 175), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,66

Kebutuhan Satuan Indeks

Bahan

  • Portland cement 326,000 kg
  • PB 760 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1029 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja OH 1,650 OH
  • Tukang batu OH 0,275 OH
  • Kepala tukang OH 0,028 OH
  • Mandor OH 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 16,9 MPa (K 200), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,61

Kebutuhan Satuan Indeks

Bahan

  • Portland cement 352,000 kg
  • PB 731 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1031 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 19,3 MPa (K 225), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,58

Kebutuhan Satuan Indeks

Bahan

  • Portland cement 371,000 kg
  • PB 698 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1047 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor o,028 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 21,7 MPa (K 250), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,56

Bahan

  • Portland cement 384,000 kg
  • PB 692 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1039 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 24,0 MPa (K 275), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,53

Bahan

  • Portland cement 406,000 kg
  • PB 684 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1026 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 1,650 OH
  • Tukang batu 0,275 OH
  • Kepala tukang 0,028 OH
  • Mandor 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 26,4 MPa (K 300), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,52

Bahan

  • Portland cement 413,000 kg
  • PB 681 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1021 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja OH 1,650 OH
  • Tukang batu OH 0,275 OH
  • Kepala tukang OH 0,028 OH
  • Mandor OH 0,083 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 28,8 MPa (K 325), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,49

Bahan

  • Portland cement 439,000 kg
  • PB 670 kg
  • Bahan KR (maksimum 30 mm) 1006 kg
  • water 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 2,100 OH
  • Tukang batu 0,350 OH
  • Kepala tukang 0,035 OH
  • Mandor 0,105 OH

Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 31,2 MPa (K 350), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,48

Bahan

  • Portland cement 448,000 kg
  • PB 667 kg
  • KR (maksimum 30 mm) 1000 kg
  • Air 215 Liter

Tenaga kerja

  • Pekerja 2,100 OH
  • Tukang batu 0,350 OH
  • Kepala tukang 0,035 OH
  • Mandor 0,105 OH

“ Bobot isi pasir = 1.400 kg/m3, Bobot isi kerikil = 1.350 kg/m3, Bukling factor pasir = 20 % ”

Perbandingan bahan tersebut dapat menghasilkan mutu beton mendekati rencana K sekian menyesuaikan kondisi bahan tenaga dimana beton dibuat.

Sumber: SNI ( standart nasional Indonesia )

Pile Driving Analyzer ( PDA ) - Test Pondasi Dalam

TUJUAN PENGUJIAN PDA TEST

Tujuan pengujian tiang dengan Pile Driving Analyzer ( PDA ) adalah untuk mendapatkan data tentang :

1. Daya dukung aksial tiang.

2. Keutuhan / integritas tiang.

3. Efisiensi enerji yang ditransfer.

Jenis fondasi tiang yang dapat diuji dengan ‘PDA’ tidak terbatas pada tiang pancang saja. ‘PDA’ juga dapat digunakan untuk tiang yang dicor di tempat seperti tiang bor, tiang franki dan jenis fondasi tiang lainnya.

1. Daya Dukung Aksial Tiang

Penentuan daya dukung aksial tiang didasarkan pada karakteristik dari pantulan gelombang yang diberikan oleh reaksi tanah ( lengketan dan tahanan ujung ).

Korelasi yang baik antara daya dukung tiang yang diberikan dari hasil ‘PDA’ dengan cara statis yang konvensional telah diakui, yang membawa pada pengakuan ‘PDA’ sbg metode yang sah dalam ASTM D-4945-1996.

Meski demikian, harus dicatat korelasi yang ditujukan dalam grafik didasar-kan pada hasil pengujian jika daya dukung batas ( ultimate ) dicapai baik dengan ‘PDA’ maupun dengan pengujian statis yang konvensional.

Keutuhan Tiang

Kerusakan pada fondasi tiang dapat terjadi karena beberapa hal antara lain pada saat pengangkatan tiang atau selama pemancangan tiang. Untuk tiang bor, pengecilan penampang dan longsornya tanah adalah kerusakan yang paling umum dijumpai. Kerusakan ini dapat dideteksi dengan ‘PDA’.

Berdasarkan ‘F’ ( gaya ) dan ‘V’ ( kecepatan ) yang terekam dari gelombang selama perambatannya sepanjang tiang, lokasi dari kerusakan dapat dideteksi dan luas penampang sisa dari tiang dapat diperkirakan.

Jika hanya keutuhan tiang saja yang dibutuhkan, sebuah sub-sistem dari ‘PDA’ yang disebut ‘ Pile Integrity Tester ‘ lebih ekonomis untuk digunakan dari pada ‘PDA’.

Efisiensi Palu Pancang

‘PDA’ mengukur enerji pemancangan actual yang ditranfer selama pengujian. Karena berat palu pancang dan tinggi jatuh palu pancang dapat diketahui, maka efisiensi enerji yang ditransfer dapat dihitung.

PERALATAN PDA TEST

Peralatan untuk pengujian ‘PDA’ terdiri dari :

1. Pile Driving Analyzer ( PDA ),

2. Dua (2) strain transducer.

3. Dua (2) accelerometer

4. Kabel Penghubung.

Peralatan dapat dimasukkan dalam kotak perjalanan yang cukup kuat. Setiap set ‘PDA’ dan perlengkapannya membutuhkan satu atau dua kotak yaitu berukuran sekitar 600 mm x 500 mm x 400 mm: dengan berat sekitar 30 kg.

PROSEDUR PENGUJIAN PDA TEST

Pengujian dinamis tiang didasarkan pada analisis gelombang satu dimensi yang terjadi ketika tiang dipukul oleh palu.

Regangan dan percepatan selama pemancangan diukur menggunakan strain transducer dan accelerometer. Dua buah strain transducer dan dua buah accelerometer dipasang pada bagian atas dari tiang yang diuji ( kira-kira 1,5- x diameter dari kepala tiang ).

Pemasangan kedua instrument pada setiap pengukuran dimaksudkan untuk menjamin hasil rekaman yang baik dan pengukuran tambahan jika salah satu instrument tidak bekerja dengan baik.

Pengukuran direkam oleh ‘PDA’ dan dianalisis dengan ‘ Case Method’ yang sudah umum dikenal, berdasarkan teori gelombang satu dimensi. Latar belakang teoristis pengujian dinamis tiang dapat dibaca pada lampiran A.

Pemasangan Instrumen

Pengujian dinamis dilaksanakan untuk memperkirakan daya dukung aksial tiang.

Karena itu, pemasangan instrument dilakukan sedemikian rupa sehingga pengaruh lentur selama pengujian dapat dihilangkan sebanyak mungkin.

Untuk itu harus dilakukan adalah :

1. Strain transducer harus dipasang pada garis netral dan accelerometer pada lokasi berlawanan secara diametral.

2. Posisi dari palu pancang harus tegak lurus terhadap garis strain transducer.

Persiapan Pengujian PDA TEST

Persiapan pengujian terdiri dari :

1. Penggalian tanah permukaan sekeliling kepala tiang, apabila kepala tiang

sama rata permukaan tanah.

2. Pengeboran lubang kecil pada tiang untuk pemasangan strain transducer dan accelerometer.

3. Pemasangan instrument.

Informasi yang diperlukan dalam PDA test.

1. Gambar yang menunjukan lokasi dan identifikasi tiang.

2. Tanggal pemancangan.

3. Panjang tiang dan luas penampang tiang.

4. Panjang tiang tertanam.

pedoman pengujian

Pengujian ‘PDA’ dilaksanakan berdasarkan prosedur yang tercantum dalam ASTMD-4945-1996.

Waktu Pengujian PDA test

Pengujian ‘PDA’ dapat dilakukan selama pemancangan untuk memonitori perkembangan daya dukung tiang sejalan dengan tiang masuk makin dalam, kenerja dari sistem pemancangan atau memonitor tegangan pada saat pemancangan yang ekstrim.

Tetapi umumnya ‘PDA’ digunakan untuk menentukan daya dukung jangka panjang tiang fondasi. Untuk tujuan ini, pengujian ‘PDA’ sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah pemancangan, setelah gaya lengketan tanah mulai bekerja.

Rabu, 22 September 2010

Sistem Struktur Bangunan Tinggi

Unsur-unsur strtuktur dasr bangunan adalah :
- Unsir Linear, berupa kolom dan balok yang mampu menahan gaya aksial dan gaya rotasi
- Unsur Permukaan, terdiri dari dinding dan plat
- Unsur Spasial, merupakan pembungkus fasade atau core (inti) dengan mengikat bangunan agar berlaku sebagai satu kesatuan.

Type sistem struktur bangunan bertingkat tinggi :


1. Dinding pendukung sejajar
Pararel bearing wall
2. Inti dan dinding pendukung fasade
Core and fasade bearing wall
3. Boks Berdiri sendiri
Self support box
4. Plat terkantilever
Cantilevered slab
5. Plat rata
Flat slab
6. Interspasial
interspatial
7. Gantung
suspention
8. Rangka Selang Seling
Staggered truss
9. Rangka Kaku
Rigid frame
10. Rangka Kaku dan Inti
Rigid frame and core
11. Rangka Trussed
Trussed frame
12. Rangka Belt trussed dan inti
Belt trussed frame and core
13. Tabung dalam tabung
Tube in tube
14. Kumpulan tabung
Bundled tube

Pemilihan sistem struktur bangunan tinggi tidak hanya berdasarkan atas pemahamana struktur dalam konteksnya semata, tetapi lebih kepada faktor fungsi terkait dengan kebutuhan budaya, sosial, ekonomi dan teknologi.


Beberapa faktor dalam perencanaan sistem pembangunan struktur bangunan tinggi adalah :
1. Pertimbangan umum ekonomi
2. Kondisi tanah
3. Rasio tinggi lebar suatu bangunan
4. Pertimbangan fabrikasi dan pembangunan
5. Pertimbangan mekanis (sistem utilitasnya)
6. Pertimbangan tingkat bahaya kebakaran
7. Pertimbangan peraturan bangunan setempat
8. Ketersediaan dan harga bahan konstruksi utama

Senin, 09 Agustus 2010

All About Hotmix




I. Pengertian Hotmix

Aspal Beton (Hotmix) adalah campuran agregat halus dengan agregat kasar, dan bahan pengisi ( Filler ) dengan bahan pengikat aspal dalam kondisi suhu panas tinggi. Dengan komposisi yang diteliti dan diatur oleh spesifikasi teknis.


II. Aplikasi Hotmix

Aspal Beton (Hotmix) secara luas digunakan sebagai lapisan permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas berat, sedang, ringan, dan lapangan terbang, dalam kondisi segala macam cuaca.


III. Jenis - Jenis Hotmix
Berdasarkan bahan yang digunakan dan kebutuhan desain konstruksi jalan aspal Beton mempunyai beberapa jenis Antara Lain:

1. Asphalt Traeted Base ( ATB ) dengan tebal minimum 5 Cm digunakan sebagai lapis pondasi atas konstruksi jalan dengan lalu lintas berat / Tinggi.

2. Binder Course ( BC ) dengan tebal minimum 4cm biasanya digunakan sebagai lapis kedua sebelum wearing course.

3. Wearing Course ( AC ) / Laston dengan tebal penggelaran minimum 4 Cm digunakan sebagai lapis permukaan jalan dengan lalu lintas berat.

4. Hot Roller Sheet ( HRS ) / Lataston / laston 3 dengan tebal penggelaran minimum 3 s/d 4 cm digunakan sebagai lapis permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas sedang.

5. ( FG ) Fine Grade dengan tebal minimum 2.8 cm maks 3 cm bisanya digunakan untuk jalan perumahan dengan beban rendah.

6. Sand Sheet dengan tebal Maximum 2.8 cm biasanya digunakan untuk jalan perumahan dan perparkiran.



IV. Kelebihan Hotmix
  1. Lapisan konstruksi Aspal beton tidak peka terhadap air, (kedap air )
  2. dapat dilalui kendaraan setelah pelaksanaan penghamparan .
  3. Waktu pekerjaan yang relatif sangat cepat sehingga terciptanya efesiensi waktu.
  4. mempunyai sifat flexible sehingga mempunyai kenyamanan bagi pengendara,
  5. Stabilitas yang tinggi sehingga dapat menahan beban lalu lintas tanpa terjadinya deformasi.
  6. Tahan lama terhadap gesekan lalu lintas dan cuaca
  7. Pemeliharaan yang relative mudah dan murah.
  8. Ekonomis
V. Bahan Perekat

1. Coating (perekat) ada 2 jenis yaitu :
  • Prime Coat untuk kondisi lahan base course
  • Tack Coat untuk kondisi lahan penetrasi / aspal lama
2. Bahan dasar perekat ada 2 macam
  • Aspal cair
  • Emulsi

VI. Peralatan / Mesin Umum Yang Sering Digunakan


Mesin Produksi Amp



Asphalt Finisher, Mesin: Vogele, Niigata, Sumitom,dll



Tire Roller ( TR ), Mesin: Sakai, Bitelli, dll



Tandem Roller, Mesin : Sakai, Bitelli, dll



Dump Truck, Kapasitas 15 & 20 Ton




VI. Peralatan Pendukung Pekerjaan

Jack Hammer



Hand Counter



Meteran



Termometer




Compresor Hammer